Sepotong cerita, AL

    Kau keliru Al...kau salah mengerti. Kau pun tak tau potongan ceritanya.
Mungkin kau tak sadar mengapa ada orang sebodoh aku yang memilih jalan cerita seperti ini.
Sudah lama aku mencari teman teman separuh hati yang membuat hilang jenuh bosan di kepala ku. Aku bingung pada teman teman ku mereka bisa dengan mudah mendapatkan "Pacar" aku? Bahkan baru didekati saja sudah mendengus malas. Sudah sejak lama aku ingin merasakan seperti apa yang mereka rasakan. Dan kian kemari rasa penasaran ku semakin habis dimakan waktu. Kalau malam itu kau tak pernah bilang kau ingin mewujudkan apa yang sudah aku inginkan sejak satu tahun terakhir kita berteman. Sejak luka ku bertambah dalam melihat kau dengan junior ku disekolah. Jalan ceritanya tak mungkin serumit ini. Tak mungkin sebahagia ini. Terlalu lama aku berfikir untuk mengiyakan hubungan itu. Takut-takut kau bosan menunggu jawaban ku yang terlalu lama. Setelah kita berhasil menjalaninya. 16-12-14. Ternyata
tak pernah aku dapatkan sesuatu yang sudah lama aku inginkan...IYA!  tak pernah aku dapatkan...APA? Cintamu...Sejak aku mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan sekali dalam hidupku di umur ku yang katanya "Sweetseventeen" Ternyata aku malah merasakan hal yang berbeda. Acap kali aku merasa ketika hubungan kita terjalin aku tidak menjadi diriku sendiri aku malah menjadi orang lain. Aku...berusaha ingin tampil cantik didepanmu. Menurut beberapa temannku aku harus mencoba menjadi gadis feminim dengan selalu berpenampilan feminim, dan memakai bedak atau parfum ketika bertemu dengan mu. Padahal pada kenyataannya aku tak pernah melakukan hal itu pada siapapun termasuk teman sekolah ku. Aku tak pernah memberikan paras yang aku punya pada siapapun yang pernah melihatku, pada siapapun yang menyukaiku hanya satu kau...orang yang pernah kusuka. Karena kau menjadi alasan aku untuk merubah penampilan, menjadi diri orang lain, mengatakan hal-hal bohong demi agar tidak membuat mu marah. Hanya itu. Setiap malam aku selalu bertanya pada langit yang gelap kosong seperti tak menghadirkan harapan "Langit mengapa tak kau tunjukan cahaya indah indah mu...Langit apakah Al benar mencintaiku? Apakah sebaiknya hubungan ini telah sampai disini saja...." Setiap malam sebelum mengisi doa tidur pertanyaan itu selalu ada dalam fikiran ku, tapi tak pernah aku tunjukan dihadapanmu Al kalau - kalau orang yang kini menjadi kekasih mu meragukan cintamu. Setiap malam kau selalu berpesan dalam pesan singkat mu mengenai harapan-harapan kita setelah lulus dan kau tidak menginginkan aku pergi jauh dari sisi mu. Sesak sekali melihat pesan pesan itu sampai aku tertidur dan terbangun di pagi hari ada orang yang selalu hadir setiap pagi dan memaksa ku datang lebih cepat untuk menanti pertandingan futsalnya. Entahlah aku selalu ragu selalu ragu pada orang orang untuk percaya aku kekasih mu atau hanya teman biasa, aku terlalu biasa bagi mereka untuk menjadi kekasih mu, sehingga orang orang tak percaya. Begitu juga sebaliknya orang orang yang datang dari sisi ku juga tak percaya kalau kau kini adalah kekasihku. Tapi sampai saat itu sepotong hati yang bertanya tanya bukan...bukan,..cinta mu bukan untukku. Selama ini kau tak pernah menunjukan pada ku benarkah kau mencintaiku...adakah rasa itu untukku?, atau kau tunjukkan pada langit diatas sana kalau kau mencintai perempuan seperti aku. Tidak. Tidak pernah Al. Sampai berhari-hari hubungan ini ada rasa yang mengganjal ada yang terus menghantui disetiap malam-malam ku. Iya pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang dalam tidur ku. Sampai akhirnya aku memutuskan kita untuk berpisah. Dan kau meng-iyakan.
    Hari itu adalah hari amat menyedihkan bagiku belum genap sebulan hubungan ini sudah berhenti ditengah jalan. Betapa kelu nya aku bingung berkecamuk pertanyaan. Tanpa ada kata lain kau meng-iyakan keputusan hubungan ini berakhir, Hubungan yang sudah hampir satu tahun aku impikan, lelaki yang sekaligus sahabat yang sangat membuatku jatuh hati yang aku harapkan akan menjadi kekasih ku. Kini sudah pergi bersama kenangan ku. Sejak hari keputusan kita aku tak pernah bisa lepas dari bayang wajahmu yang selalu aku lihat di langit malam hari, terutama yang membuat aku terjatuh dalam rasa yang tak wajar adalah senyummu. Aku sangat mencintai senyum indah mu, Al. Hanya itu. Sesedarhana mungkin aku membentuk rasa yang tak pernah mungkin aku dapatkan darimu. Aku selalu bahagia mendapatkan senyum dan tatap matamu untukku. Sudah besar pengharapanku sejak kita berdekatan hanya berstatus teman, sudah besar pula usaha-usaha kode-kode aku agar kita bisa memiliki status yang jelas, aku menaruh harapan terbesar yang belum pernah aku berikan pada siapapun, dan hanya untukmu. Lepas setelah hari keputusan itu berangsur-angsur aku menyendiri banyak hal yang tidak aku ketahui tentang mu Al, banyak orang mengatakan bahwa benar memang, kau tak pernah betul mencintai ku, malah kau menganggap posisiku sama dengan wanita-wanita yang dekat denganmu. harusnya sejak awal aku tak perlu lagi menebak-nebak isi hati mu yang kosong untuk ku, harusnya aku tak menaruh harapan untuk menjadi kekasih mu, harusnya aku tak menanamkan bibit benih-benih rasa sehingga dia tumbuh dan berkembang selama mungkin didalam hatiku. Sehingga akupun tak tau cara mencabut rasa itu agar tidak ada akar yang tersisa. Aku sudah merasa letih berjalan jauh puluhan kilo-meter agar bisa menjauh dari hidupmu hidup tenang dan melupakan banyak kenangan yang sudah kita lewati bersama, namun rasa itu tetap ada dan belum hilang sampai saat ini. Tiap kali aku melewati dan datang kesebuah tempat yang pernah ku datangi sebelumnya bersama mu. Dadaku terasa sesak, aku tersadar banyak kenangan di tempat ini, terutama bahagiaku melihat senyum indah canda tawamu. Menyakitkan. Pasti. Masih tersisa angin-angin asap rokok-mu mengepul di udara hilang terbawa kenangan indah canda tawa kita. Masih ada aku yang ter-duduk memperhatikan dan yang memaksa di buatkan lingkaran sempurna melalui asap rokok-mu itu tersenyum bahagia melihat kau membuatkannya penuh canda untukku. Sederhana sekali kebersamaan kita. Setiap malam "Malam penuh kebohongan" aku bilang pada ibukku kalau kau akan mengajakku makan di luar tetapi aku akan meminta izin pada ayahku untukku mengembalikan buku tugas sekolah. Berlari dengan cepat menyusuri jalan-jalan tikus agar dapat menembus tembok-tembok perempatan di sudut jalan disitulah tempat kita bertemu dan pergi bersama. Ya menyenangkan sekali. Dua kali aku mendengar berita pengkhianatan mu datang untukku. Satu hari senja tiba kau pernah berkata kau akan susah lagi merasakan rasanya jatuh cinta, karena sekarang cintamu hanya untukku. Tapi sepasang status sosial media telah mewakili berita pengkhianatan itu. Aku?Aku pengamat cerdas secerdas kau memanipulasi status di sosial media. Kau selalu menganggapku bodoh, dengan cara-cara halus mu memanipulasi status sosial dengan wanita penghibur kesepianmu itu. Kau tau. Menyakitkan bila melihat itu bak belati menembus dadaku. Kau harus tau sepotong cerita yang tak pernah kau tau selepas hari keputusan kita. Yang membuat kita seperti jauh berada pada ratusan kilo-meter. Wajahku Al. Kau tau persis wajahku yang amat datar menyikapi pertemuan-pertemuan kita disekolah. Lambat laun kau dan aku kehilangan komunikasi. Terutama hal yang paling aku suka bertatap mata satu sama lain. Aku benar-benar kehilangan mu Al. Separuh alasan aku untuk tersenyum setiap hari. Aku tak lagi memiliki kesempatan untuk menumpahkan rasa rindu ku yang telah lama hilang komunikasi dengan mu. Dan lagi-lagi wajahku yang ter-amat menipumu hal yang menjadi kau pergi menjauh dariku, kau menyangka aku tak ada beban apa-apa hal itu tertunjukan oleh ekspresi muka ku yang ter-amat datar, seolah-olah tak ada beban masalah. Kau keliru. Kau cerdas, kau pengamat yang cerdas, penumbuh rasa yang pandai, namun naluri mu kali ini keliru. Padahal sudah jelas ada kenangan yang menyakitkan masih tersimpan dihatiku. Setumpuk masa lalu yang hadir di setiap malam sebelum aku terlelap. Hal itu tak bisa aku wakilkan dengan wajahku ini. Satu bulan sudah terlewati. Lagi-lagi kabar burung berita pengkhianatan mu datang lagi. Katanya- ada wanita yang memiliki suara vokal bagus sedang kau dekati. Aku menghargai profesi hobi mu sebagai drummer. Tapi? Eh? Siapa perempuan itu? Kabar itu dengan cepat melesat sampai dikupingku. Mula-mula semua amat ter-amat menyakitkan kian kemari hati ku seperti baja yang kuat di timpa apapun. Aku tau kau berkhianat. Ada yang tak kau ketahui dari sebuah kisah. Aku tau kau dirundung sebuah musibah kau menghajar seorang junior disekolah dengan pukulan mautmu itu. Kau benar-benar pemberani tapi jiwa pemberani mu datang ditempat dan waktu yang salah. Saat aku tau kasus mu itu aku? aku orang pertama yang ter-kaget dan ingin sekali berada disampingmu saat itu aku ingin tau langsung apa hal yang membuat mu menjadi seperti itu. Aku ingin membuat mu semangat dan ingat jauh di langit sana ada yang sedang menguji kesabaranmu. Datang dimana hari kau akan di eksekusi di keluarkan dari sekolah, nyatanya kau harus melalui beberapa sidang di sekolah. Aku orang yang tak terima pertama kali tidak terima kau akan di eksekusi keluar tanpa hormat. Sejak berita menegangkan itu setiap malam aku bertanya pada langit "Langit mengapa hidup ini tak andil beberapa orang merenggut orang yang aku sayang, sekarang beberapa orang ingin membuat orang yang aku sayang pergi..." Setiap malam sebelum aku terlelap dari tidur tidur resah ku. Aku berdoa pada langit, bantu orang yang aku sayangi keluar dari jalan masalahnya, kuatkan lah Al, aku tau tanpa aku mensupport dia langsung dia pasti sekuat baja menghadapinya, aku hanya dapat mensupportnya dengan doaku setiap malam, bulir-bulir air yang terjun bebas membasahi pipi lamat-lamat menyakitkan, Andai...Andai tak ada hari perpisahan saat itu pasti aku ada disampingnya sekarang. Tidak ada lagi hal yang bisa aku lakukan selain berdoa, dan meminta kabar hanya melalui dering handphone tanda kabar melalui ibunya. Tak adalagi meski aku sadar doaku terkabul aku tetap ingin ada disampingnya. Al sangat cerdas menyembunyikan kesedihan dihatinya, bahkan dalam keadaan serumit ini meski dia akan di sidang dia masih tetp tersenyum bersama teman-temannya. Aku senang melihatmu senang. Tapi bagaimana jika eksekusi itu benar-benar terjadi dan ia dikeluarkan dari sekolah ini. Bagaimana dengan sepotong hati ku yang sudah patah karenanya. Aku akan menjalani masa-masa sulit sangat sendirian tanpa hadirnya dia, tanpa senyum dan tawa meskipun itu bukan untukku lagi. Al, sepotong cerita ini  tidak kau ketahui, kau keliru, kau cerdas namun naluri mu salah besar pada saat itu. Aku tak pergi begitu saja tanpa perasaan yang terpendam. Bahkan semakin aku jauh berlari sampai terasa ratusan kilo-meter masalalu pahit itu masih menyisakkan di dadaku bahkan rasa pedihnya semakin dalam. Setiap malam tiba kenangan-kenangan masa lalu itu muncul berbayang di langit. Sungguh Al sepotong cerita ini tidak pernah kau ketahui, kau tidak tau apa yang terjadi denganku setelah hari keputusan kita. Aku mengalami masa-masa yang sulit. Semakin hari fikiranku mengaduh kacau, malam-malam ku terganggu oleh fikiran aneh, aneh sekali, waktu istirahat ku pun terganggu. Aku mencoba lari dari hal yang membuat memikirkanmu. Dengan menyibukkan diri. Namun sesak sesal masa lalu itu datang kerap malam hari tiba. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Bunga tidur ku semakin kacau, banyak mimpi-mimpi aneh berdatangan. Kesehatan ku pun terganggu.Kondisi ku memperparah. Aku jatuh sakit dan dilarikan ke UGD Rumah Sakit.


Sungguh, Al aku tak pernah menyangka apa yang pernah terjadi. Aku sangat menyedihkan karena aku berfikir ada saatnya aku tumbuh dan berkembang sama seperti gadis yang lain, aku berfikir itu sangat se-menyenangkan apa yang pernah aku bayangkan. Pertama kali aku mencoba dan pertama kalinya aku gagal. Setiap kali aku mendengar seseorang mengungkit masa lalu ku tentang mu dengan embel-embel "Lo yang salah han, lo yang putusin dia jadi lo harus terima" rasanya dada-ku sakit sekali, pernah sekali tak tertahankan aku hampir menghajarnya dengan tangan melayang dipipinya, namun dia adalah temannku sendiri. Kata kata itu membuat ku di rundung rasa bersalah yang tidak ada akhirnya. Sungguh aku menyesali ter-amat menyesali masa lalu yang pahit mengenal rasanya jatuh-cinta namun prosesnya se-sakit yang tak pernah terbayangkan. Mungkin aku salah satu remaja yang tak pernah merasakan rasanya jatuh-cinta,cinta pertama, atau yang sering mama bilang "Cinta Monyet"
Benar memang wajah ku sangat menipu aku seperti terlihat biasa-biasa saja tapi kalau kau tau ini sangat menyedihkan bagiku, aku di rundung rasa bersalah yang tak pernah ada akhirnya, sehingga aku pun tak bisa maafkan diriku sendiri, aku dihantui banyak bayangan masa lalu yang kelam dikepala, pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya yang hampir habis dimakan waktu. Hidup ku rasa tak adil, ini semua seperti lelucon, teman-teman yang ada, mereka yang bisa cakap asa tentang aku dan kau Al, tanpa merasa rasa. Dunia ini lelucon, semuanya tak nyata. Hidup kadang tak adil. Mungkin benar kata orang, Hidup hanya sekali, Mati sekali, dan Jatuh cinta pun sekali.

Kau tak pernah tau sepotong cerita tadi, dan apa yang terjadi setelah kau pergi. Sangat menyakitkan, Aku mengalaminya sendirian, Al.
















Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer